Judi Sabung Ayam Online
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan

Jumlah Korban Meninggal Banjir Jakarta 2013

Jumlah Korban Meninggal Banjir Jakarta 2013 -  Jumlah korban yang meninggal dunia akibat banjir di Jakarta bertambah menjadi 15 orang, setelah pada Sabtu sore tim SAR menemukan satu jenazah lagi di gedung Plaza UOB di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.

Jenazah seorang petugas cleaning service gedung Plaza UOB, Herdian Eko (27), ditemukan tim SAR gabungan sekitar pukul 15.05 WIB.

Sebelumnya, pada pagi sekitar pukul 05.30 WIB, jenazah seorang laki-laki juga ditemukan di area parkir basement gedung Plaza UOB.
Menurut data yang dilansir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui laman resminya, korban yang ditemukan di basement gedung Plaza UOB berjumlah 4 orang, 2 orang selamat, dan 2 orang meninggal dunia.

Dua orang yang selamat telah dirawat di rumah sakit dan kesehatanya berangsur-angsur membaik. Air di basement 1 gedung itu sudah surut, tetapi di basement 2 masih tergenang.

Dengan demikian jumlah korban meninggal selama banjir Jakarta sejak Selasa (15/1) hingga sekarang sebanyak 15 orang.

Banjir di DKI Jakarta telah melanda 102 kelurahan di 32 kecamatan.

Sampai sekarang, beberapa daerah masih terendam air. Genangan air di kawasan Pluit, Jakarta Utara, masih setinggi 1,5 meter.

Hingga saat ini banjir masih menggenangi beberapa wilayah di Jakarta, sebagian besar daerah Pluit mengalami banjir yang bervariasi tingginya hingga 2 meter. 

BNPB melakukan kunjungan ke lokasi banjir Pluit untuk mengkaji dan mencari solusi banjir di Pluit akibat meluapnya Waduk Pluit.

Berita Banjir Jakarta 20 Januari 2013

Berita Banjir Jakarta 20 Januari 2013 - Sekitar 2.500 jiwa pengungsi korban banjir Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan, memadati aula Masjid Attahiriyah, kata Wakil Lurah Bukit Duri, Syarifuddin.

"Jika pengungsian di Kelurahan Bukit Duri penuh, dibawa ke Masjid Attahiriyah. Kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah seiring dengan kondisi genangan air," kata Syarifuddin di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, Masjid Attahiriyah yang menjadi posko itu sudah dipenuhi pengungsi sejak Kamis (17/1) malam. Warga yang mengungsi karena ketinggian air semakin bertambah saat itu.

"Saat ini, pengungsi masih berada di pengungsian tersebut karena kondisi banjir yang tak kunjung surut," ujarnya.

Namun, ada sebagian warga yang bertahan di lantai dua rumahnya dengan alasan melindungi harta benda mereka.

"Kami sudah mengimbau mereka untuk segera meninggalkan rumah dan tinggal di tempat mengungsi (pengungsian, red.). Namun, mereka lebih memilih bertahan di lantai dua rumahnya. Jika mereka merasa `terancam` atas keselamatan sendiri, baru bersedia ke sini," kata dia.

Beberapa warga yang termasuk di dalam kalangan itu pada akhirnya bersedia datang ke pengungsian yang tersebar di Kelurahan Bukit Duri.

"Jadi, sampai saat ini sudah semua warga yang rumahnya banjir berhasil dievakuasi," ujarnya.

Ia bersyukur bahwa kerja sama antarwarga sangat baik dalam menangani dan mendirikan posko penampungan pengungsi. Tentu saja pendirian posko serta tempat penampungan dibantu oleh LSM, PMI, serta dinas setempat.

Berdasarkan pantauan, warga Bukit Duri yang mengungsi hanya beralaskan karpet atau tikar. Semuanya, baik lansia, orang dewasa, anak kecil, maupun balita disatukan dalam satu ruangan terbuka.

Sementara itu, orang-orang yang sakit dipisahkan ke dalam ruangan yang berbeda.

Menurut dia, sebanyak 1.000 pengungsi memadati posko pengungsian Kelurahan Bukit Duri. Jumlah pengungsi balita 116 dan lansia 21, sementara pengungsi yang sudah berobat di posko kesehatan sekitar 500 orang.

"Dari 900-1.000 pengungsi di posko tersebut, ada 83 balita dan 13 lansia yang sudah terserang penyakit. Paling banyak menderita ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), dermatitis (gatal-gatal), dan diare," kata dia.

Posko Kesehatan Bukit Duri sudah memberikan makanan pendamping ASI, biskuit, dan makanan khusus balita di posko pengungsian.

Berita Banjir Karawang 20 Januari 2013

Berita Banjir Karawang 20 Januari 2013 - Banjir setinggi 1,5 meter masih menggenangi sejumlah wilayah di Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Sabtu.

Wilayah itu masih tergenang akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya, dinihari tadi.

Lebih dari 900 rumah terendam. Banjir juga memutus jalan raya yang menghubungkan Rengasdengklok-Batujaya, serta merendam ratusan hektare areal persawahan yang berada di daerah tersebut.

Ratusan mungkin ribuan warga korban banjir di Batujaya mengungsi di tenda-tenda pengungsian yang dibangun di sisi jalan raya.

Cukup banyaknya tenda pengungsian warga korban banjir di sepanjang jalan raya mengakibatkan arus lalu lintas macet parah.

"Lebih baik mengungsi, khawatir tanggul Sungai Citarum jebol lagi," kata Fuad, seorang korban banjir di wilayah Batujaya.

Menurut dia, banjir dari meluapnya Sungai Citarum datang dengan cepat sehingga ia tidak sempat menyelamatkan seluruh barang berharganya yang ada di dalam rumah.

Banjir di daerah Karawang telah melanda puluhan desa di 15 kecamatan dari total 30 kecamatan yang ada di Karawang.

Banjir telah menggenangi Kecamatan Telukjambe Timur, Telukjambe Barat, Karawang Timur, Karawang Barat, Cikampek, dan Kecamatan Tirtamulya.

Kemudian Kecamatan Pakisjaya, Tirtajaya, Pedes, Jatisari, Pangkalan, Batujaya, Tempuran, Cilamaya Wetan, serta Kecamatan Cilamaya Kulon.

Kumpulan Foto Banjir Jakarta Januari 2013


Kumpulan Foto Banjir Jakarta Januari 2013 - Seperti apa kondisi banjir di Jakarta saat ini dan bagaimana aktivitas warga Jakarta dilokasi-lokasi yang terkena banjir, berikut ini adalah foto-foto atau dokumentasi gambar rekaman banjir yang terjadi di Ibukota Jakarta. Banjir tahunan yang kerap terjadi dan seakan sulit untuk diantisipasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut 52 kelurahan di Jakarta kebanjiran. Genangan paling parah terjadi di Kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan dan Kampung Melayu, Jakarta Timur dengan ketinggian mencapai tiga hingga dua setengah meter. Kemudian Kelurahan Bidaracina, Cawang, Cililitan, dan Pasar Rebo dengan ketinggian antara satu hingga tiga meter.

 Kumpulan Foto Banjir Jakarta Januari 2013

 
 
 
 
 
 

Penanganan Banjir Jakarta, Jokowi Terhambat 5 Faktor

Berita Komunitas - Banjir parah melanda Jakarta, Januari 2013 ini. Jalur-jalur protokol banyak yang tergenang air. Arus lalu lintas nyaris lumpuh.  Dalam menangani banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan meminta bantuan Pemerintah Pusat. Bantuan tersebut diperlukan khususnya dalam merekayasa saluran air di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menegaskan, pihaknya sekarang tidak mampu berbuat banyak mengatasi banjir. "Sekarang kita tidak mampu berbuat banyak selain memastikan ketersediaan bantuan logistik dan obat-obatan untuk seluruh korban banjir," katanya.

Berikut 5 persoalan yang membuat Jokowi dan Ahok seakan tidak berdaya mengatasi banjir.

1. APBD belum disahkan

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) beralasan tidak bisa berbuat maksimal untuk mengatasi banjir dalam waktu singkat karena anggaran dalam APBD DKI 2013 Jakarta belum diketok oleh DPRD. Karena itu, ia saat ini hanya bisa melakukan penanganan seperti hanya memberikan bantuan kepada korban banjir.

"Ini proses yang mau kita percepat. Kemudian resapan air juga belum dimulai, anggarannya belum diketok oleh dewan (DPRD). Hal-hal seperti itu yang harus juga kita sampaikan apa adanya kepada masyarakat," kata Jokowi di Balai Kota Jakarta, Rabu (16/1).

Padahal, Jokowi mempunyai banyak rencana untuk mengatasi banjir Jakarta. Rencana itu tidak bisa terlaksana lantaran anggarannya belum cair.

"Saya enggak hafal di semua titik ada semuanya. Misalnya kayak sumur resapan yang kita targetkan 10 ribu. Seingat saya Rp 250 miliar untuk sumur resapannya saja. Dan untuk normalisasi sungai yang untuk pembebasan tanah kira-kira sudah Rp 450 miliar. Pembebasan tanahnya saja, belum titiknya. Saya engak hafal titiknya," ujarnya.
 
2. Titik banjir selalu bertambah

Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa terdapat pertambahan titik-titik banjir di Jakarta setiap tahun. Namun demikian, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa titik banjir di Ibu Kota selalu bertambah.

"Orang tidak memperkirakan bahwa setiap tahun itu ada titik-titik banjir yang baru," ujar Jokowi saat blusukan di Kampung Pesing Koneng, Kelurahan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta, Sabtu (5/1).

Jokowi mengatakan, hal itu dapat terjadi lantaran daerah yang seharusnya menjadi kawasan resapan air telah beralih fungsi. "Area-area yang ada, yang dulu bisa dipakai untuk resapan air, menjadi rumah, mall dan apartemen," kata dia.

Akibatnya, Jokowi menambahkan, banjir yang ditimbulkan akibat banyaknya titik-titik banjir baru yang muncul tidak dapat ditangani jika hanya mengandalkan cara konvensional seperti pembangunan tanggul. Artinya, menurut dia, harus dilakukan sebuah terobosan yang salah satunya membangun deep tunnel.

3. Tanah turun, sungai menciut

Bisa dipastikan, sebagian besar wilayah di Jakarta selalu dilanda banjir saat hujan deras. Hal itu terjadi karena terjadi penurunan permukaan tanah setiap tahun.

"Permukaan tanah kan turun terus. Di Pluit itu satu tahun 2,5 sampai 4 Cm. di Jakarta itu, selain yang ada tidak dikerjakan dengan baik," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Rumah Dinasnya, Jakarta, Selasa (25/12).

Kondisi tersebut diperparah dengan mirisnya wajah sungai di Jakarta. Tumpukan sampah yang menyebabkan pendangkalan dasar sungai, hingga penyempitan bantaran menjadi faktor pendukung datangnya teror banjir.

Berdasarkan kalkulasi mantan Bupati Belitung Timur itu, sungai di Jakarta yang memiliki lebar rata-rata 60 meter, kini menyempit dan hanya menyisakan 15 sampai 20 meter.

Memang, diakui Ahok, tidak mudah mengusir banjir dari Jakarta. Butuh pembenahan di setiap lapisan. Mulai dari anggaran, mendisiplinkan intansi terkait, hingga pelaksanaan lapangan.


4. Drainase buruk
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo siang ini mengecek gorong-gorong di Jl Sudirman, Jakarta Pusat. Jokowi pun kecewa karena gorong-gorong di jantung ibu kota tak seperti dugaannya selama ini.

"Di bayangan saya, di bawah jalan-jalan di DKI ini besar-besar, bisa untuk sepakbola, tapi kenyataannya diameternya cuma 60 centimeter," ujar Jokowi usai melihat langsung gorong-gorong di kawasan Thamrin, Rabu (26/12).

Kecilnya gorong-gorong membuat air meluap saat Jakarta diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Hal ini membuat jantung Ibu Kota tersebut terendam banjir seperti pada Sabtu (22/12) lalu.

5. Curah hujan tinggi

Puncak hujan sudah melanda Jakarta sejak sepekan terakhir. Menurut Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Eko Suryanto, Jakarta akan dilanda hujan deras sampai pertengahan Februari mendatang.

"Intensitas hujannya fluktuatif, deras, reda kemudian deras lagi. Begitu kecenderungannya," kata Eko kepada merdeka.com, Kamis (17/1).

Eko menambahkan, selama musim hujan ini, curah hujan di Jakarta rata-rata 50 sampai 100 milimeter kubik. Namun, Eko belum bisa memastikan apakah curah hujan pada hari ini memecah rekor sebagai hujan dengan intensitas tertinggi.

"Kita belum bisa hitung karena kondisi ini masih akan terus terjadi sampai Februari nanti," tegasnya.

Berita Gempa Aceh 2012

Gempa Aceh 11 April 2012
Berita Gempa Aceh 2012 - Gempa berkekuatan 8,5 Skala Richter di Aceh pada Rabu 11 April 2012 lalu, menjadi sorotan para ahli. Secara magnitude, gempa ini merupakan yang terbesar pascagempa dahsyat 9,1 SR yang mengguncang Aceh pada akhir 2004 lalu.

Meski demikian gempa yang bertitik pusat di barat daya Kabupaten Simuelue, Aceh, itu tidak menimbulkan kerusakan masif, seperti terjadi pada gempa dan tsunami 2004.

Saat gempa 2004, bumi Serambi Mekah itu luluh lantak, ratusan ribu orang tewas. Lalu timbul pertanyaan, mengapa gempa besar kali ini tidak merusak?

Peneliti Bidang Dinamika Bumi dan Bencana Alam Pusat Penilitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nugroho Hananto. Menurut Nugroho, gempa pada 11 April sore terjadi di kedalaman 10 hingga 30 kilometer di oceanic basin atau kerak samudera yang jaraknya sekira 120 kilometer luar zona subduksi di Sumatera. Zona subduksi adalah pertemuan lempeng Indoaustralia dan lempeng kontinental Eurasia.

Dia menambahkan, gerak gempa pada 11 April lalu bersifat bergeser bukan turun-naik, meskipun ada beberapa komponen yang turun.

“Sehingga tidak membuat tsunami besar,” ungkap Nugroho.

Karena di zona subduksi, energi gempa harus melewati banyak material dasar laut termasuk meloncati zona subduksi.

Energi gempa tersebut melewati batuan yang memiliki daya antar energi berbeda, sehingga gelombang gempa bisa diserap. Karena energi lebih banyak diserap material di bawah laut sehingga getaran gempa pada 11 April 2012 lalu tidak sebesar gempa 2004.

Sampai di daratan, lanjut dia, kekuatannya diperkirakan sebesar IV MMI.

Sebaliknya, jika media atau energi gempa tidak terhalang material seperti bebatuan keras, energi gempa akan dirasakan sangat kuat.

Dia melanjutkan, energi gempa di kerak samudera melewati jalan berbeda-beda. Gempa harus masuk ke dalam zona subduksi berupa remukan sedimen, batuan kerak samudra, sehingga bisa jadi meredam getaran yang dirasakan.

Sedangkan jarak pusat gempa dari muka subduksi mencapai 120 kilometer.

“Gempa 11 April selain jauh juga ada faktor lain yang memperlemah energi. Energi gempa 11 April berhenti di muka subduksi itu,” jelasnya.

Karena itu Nugroho berkesmpulan, gempa pada 11 April berbeda dengan kasus pada 2004 yang terjadi di megathrust dalam zona subduksi 30 kilometer di bawah laut.

”Jadi yang kita bicarakan dua kasus berbeda. Antara April 2012 dan gempa Aceh 2004 itu dalam dua sistem berbeda,” tegasnya.

Dampak jangkauan juga berbeda. Pada 2004 MMI dan tsunami yang terjadi sangat besar hingga pulau Andaman di Samudera hindia.

Energi gempa Aceh 2004 menjalar lewat patahan-patahan yang kuat sehingga menghasilkan MMI hebat. Meski getaran sudah menjangkau 1.300 meter dari titik pusat gempa, energinya tetap masih kuat.

Patahan tersebut, jelas dia, disebut West Andaman Fault yang mengarah ke utara. Pascagempa 2004, LIPI mencatat kegempaan susulan hingga tiga bulan kemudian, meski hanya berskala kecil.

Dia meyakini dengan peristiwa gempa 11 April lalu membuktikan, sumber gempa di Aceh tidak hanya satu. Kerak samudera juga berpotensi menyebabkan gempa besar meskipun dampaknya relatif kecil di daratan.

Namun dari mana pun sumber gempanya, masyarakat diimbau tetap waspada. Menurutnya mengukur kekuatan getaran gempa tidak bisa hanya dengan berpatokan jauh atau tidaknya titik pusat gempa dengan daratan.

“Masih ada potensi gempa lain yang mungkin kita belum kenal. Masyarakat harus patuh pada otoritas yang ada dan tetap waspada,” pungkasnya.

Berita Badai Salu di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat

Berita Badai Salu di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Rabu 28 Maret 2012. Meski termasuk negara tropis, ternyata Indonesia pun bisa mengalami badai salju. Tidak percaya? Itulah yang terjadi ketika puluhan rumah warga mengalami kerusakan akibat dihantam badai salju yang melanda Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar). "Badai salju melanda Kabupaten Sijunjung pada Rabu (28/3) sekitar pukul 20.00 WIB mengakibatkan puluhan rumah mengalami kerusakan, "kata Kabid Penanggulangan Bencana BPBD Sumbar Ade Edwar di Padang, Kamis (29/3).

Menurutnya, berdasarkan data sementara diperoleh BPBD Sumbar, dimana 48 unit rumah atapnya beterbangan, dua unit rumah hancur berantakan. "Selain puluhan rumah warga rusak, badai salju juga merusak beberapa unit bangunan Sekolah Dasar (SD), tiga lokal belajar dan beberapa atapnya beterbangan, serta satu unit rumah dinas sekolah," katanya.

Dia menambahkan, badai salju yang melanda Kabupaten Sijunjung itu tidak menimbulkan korban jiwa, hanya mengalami kerugian materil. "BPBD masih melakukan penghitungan berapa kerugian harta benda ketika badai salju itu,"katanya.

Dia mengatakan, badai salju yang melanda Kabupaten Sijunjung hingga merusak puluhan rumah tersebut merupakan yang pertama kali terjadi di Sumbar. "Badai salju ini tidak pernah terjadi, ini merupakan pertama kali terjadi di Sumbar,"katanya.

Menurutnya, warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat dihantam badai salju telah dievakuasi ke tempat yang dirasakan aman. "BPBD telah mendirikan berapa unit tenda darurat bagi warga yang mengungsi, sementara itu bantuan akan segera dikirimkan,"katanya.

Dia menambahkan, untuk sementara aktivitas warga yang berada di Kabupaten Sijunjung masih belum pulih akibat badai salju yang melanda. "Masyarakat Kabupaten Sinjunjung masih merasakan khawatir jika badai salju susulan kembali terjadi, mereka berharap pemeerintah cepat memberikan bantuan,"katanya.

Info Cuaca Buruk di Bali Maret 2012

Info Cuaca Buruk di Bali Maret 2012 - Ancaman cuaca buruk masih terjadi di Pulau Bali sampai tiga hari ke depan. Karena itu masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya bencana alam.

Peringatan tersebut disampaikan pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bali mengamati perkembangan cuaca buruk belakangan ini.

"Kami mengingatkan agar seluruh masyarakat Bali berhati-hati dengan keadaan cuaca buruk yang akan terjadi hingga tiga hari ke depan," ujar Kepala BMKG Wilayah III Denpasar I Wayan Suardana, Jumat (16/3/2012).

Warga masyarakat yang berada di pesisir pantai atau mereka yang selama ini beraktivitas di laut agar lebih waspada.

Semua aktivitas perairan Laut Selatan Bali sangat membahayakan bagi pelayaran. Pasalnya, diprediksi akan terjadi gelombang pasang tinggi hingga mencapai enam meter.

"Kondisi ini sangat membahayakan bagi masyarakat dan wisatawan di Bali terlebih yang banyak beraktivitas di laut atau pantai," jelasnya.

Seperti diketahui, akibat cuaca buruk memicu terjadinya longsor, angin kencang hingga banjir bandang di hampir semua kabupaten di Pulau Dewata.

Bahkan dalam musibah longsor di Kecamatan Kintamani, Bangli, enam orang dilaporkan tewas tertimbun longsor.

Tidak hanya itu angin kencang juga menghancurkan puluhan rumah dan bangunan warga di sejumlah wilayah.

Suardana menambahkan, cuaca buruk yang melanda Bali, juga tak lepas dari imbas cuaca buruk yang sedang terjadi di Teluk Australia.

Selain gelombang tinggi di laut, cuaca buruk juga masih terjadi ditandai dengan hujan dengan intensitas dan kekuatan sedang hingga lebat serta kilatan petir.

Dampak Badai Matahari 2012

Dampak Badai Matahari 2012 - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan badai matahari yang terjadi sejak 7 Maret berpengaruh terhadap medan magnet bumi. Hal itu dikatakan BMKG setelah melakukan pengamatan melalui tiga stasiun BMKG yang terdiri atas Stasiun Geofisika Kupang, Stasiun Geofisika Manado, serta Obeservatorium Pelabuhan Ratu.

"Pada 7-8 Maret 2012 terjadi badai matahari sehingga mempengaruhi medan magnet bumi dan sampai dengan 9 Maret masih berlangsung," lapor BMKG dalam lamannya, Jumat (9/3).

Menurut BMKG, badai matahari yang mengeluarkan radiasi magnet tersebut telah mengubah variasi harian serta perubahan medan magnet bumi dengan rata-rata sekitar 50-100 nT. "Badai magnet dapat mempengaruhi sistem komunikasi," kata laporan tersebut.

BMKG menjelaskan medan magnet utama bumi berasal dari dua sumber. Pertama dari dalam bumi dan dapat berubah seiring waktu, sedangkan yang kedua - medan magnet luar - bersumber dari luar planet bumi dan merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar ultraviolet matahari.

"Sumbangan medan magnet luar terhadap medan magnet bumi hanya sebesar kira-kira satu persen dari medan total," jelas BMKG.

Matahari yang memancarkan arus tetap terdiri dari proton dan elektron serta menjalar dengan kecepatan supersonik sehingga menimbulkan angin matahari. "Angin tersebut berinteraksi secara kuat dengan medan magnet bumi yang menyebabkan badai magnetik sehingga nilai medan magnet bumi mengalami perubahan," lapor BMKG.

Laporan Badan Antariksa dan Aeronautika Amerika Serikat (NASA) juga melaporkan terjadinya badai matahari yang berukuran hingga M6,3. "Matahari melepaskan letupan massal korona (CME) sejak 8 Maret dan masih terjadi hingga 9 Maret dengan kekuatan lidah api M6,3," jelas NASA dalam lamannya, Jumat.

Menurut NASA wilayah yang aktif melontarkan letupan massal korona --1429-- telah menghasilkan dua lidah api setingkat X dan sejumlah lain berkelas M. NASA memperkirakan letupan CME berkecepatan lebih dari 1126,54 kilometer per detik.

"CME diprakirakan mencapai magnetosfer--selubung pelindung medan magnet di bumi-- pada dini hari 11 Maret," tegas NASA.

NASA melakukan pemantauan melalui Observatorium Heliosfer Surya (SOHO) menggunakan pencitraan CME. Hingga berita dibuat belum ada kepastian dari kedua lembaga mengenai waktu berakhirnya badai matahari.

Badai Matahari Maret 2012

Badai Matahari Maret 2012 - Badai matahari yang menghantam Bumi pada Jumat, 9 Maret 2012, berasal dari dua ledakan matahari terbesar dalam setengah tahun terakhir. Fenomena ledakan yang semakin kuat dan intensif disebabkan semakin dekatnya puncak aktivitas matahari.

Dua ledakan yang susul-menyusul ini berasal dari daerah bermedan magnetik aktif yang disebut AR 1429, muncul dari balik matahari empat hari sebelumnya.

Ledakan matahari pertama terjadi pada Rabu, 7 Maret 2012, sekitar pukul 07.00 WIB. Kekuatannya sangat besar. Dikategorikan sebagai ledakan kelas X5, hanya kalah dibandingkan ledakan kelas X6 yang terjadi Agustus 2011.

Ledakan susulan terjadi satu jam kemudian dengan kekuatan lima kali lebih kecil. Karenanya, ledakan kedua ini dikategorikan sebagai ledakan kelas X1.

Di matahari, ledakan terjadi akibat terjadinya arus pendek pada benang-benang magnetik matahari. Bintik hitam yang ada di permukaan matahari merupakan lokasi tumbuhnya benang magnetik yang sewaktu-waktu berpotensi terputus, menghasilkan ledakan, dan menghamburkan partikel bermuatan dari atmosfer matahari ke tepian tata surya.

Arus pendek di permukaan matahari semakin sering terjadi menjelang tahun 2013. Hal ini sesuai dengan siklus 11 tahunan aktivitas matahari. Puncak siklus kali ini diperkirakan terjadi pada akhir tahun 2013.

"Peningkatan badai bagian dari rutinitas matahari," kata peneliti dari lembaga penerbangan dan antariksa Amerika Serikat, Karen C. Fox, dalam siaran pers, Kamis, 8 Maret 2012.

Badai kali ini diperkirakan akan memberikan ancaman tingkat menengah. Partikel bermuatan akan menghantam tameng magnetik Bumi pada kecepatan 1.800-2.000 kilometer per detik. Hantaman ini membuat tameng magnetik penyok di beberapa lokasi, namun tak sampai hancur.

Oleh tameng magnetik, partikel dibelokkan menuju Kutub Utara dan Selatan. Di daerah ini, partikel terbakar oleh atmosfer sehingga menghasilkan cahaya terang yang bisa dilihat dari Bumi sebagai aurora.

Di permukaan Bumi, badai mengancam pembangkit listrik di negara-negara sekitar kutub. Muatan pada partikel berpotensi menginduksi jaringan pembangkit sehingga pemadaman listrik dapat terjadi tiba-tiba.

Gangguan satelit GPS berpotensi mengganggu kerja sistem transportasi di seluruh dunia. Sementara gangguan pada gelombang radio diperkirakan menurunkan performa komunikasi maskapai komersial.

Gempa Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam (24 Maret 2011)

Gempa bumi melanda Thailand, Myanmar, Laos dan Vietnam pada Kamis 24 Maret 2011 malam. Gempa dengan kekuatan 7,0 Skala Richter, mengguncang Thailand Utara. Getaran gempa dilaporkan terasa di Bangkok, Myanmar, Laos dan Hanoi (Vietnam). Pusat gempa berada dekat Chiang Rae, di perbatasan Thailand dengan Myanmar dan Laos yang sering disebut daerah Segitiga Emas. Daerah perbukitan tersebut dikenal sebagai salah satu pusat ladang opium.

Warga yang tengah berada di gedung-gedung tinggi dilaporkan langsung dievakuasi ke tempat yang aman. Namun, sejauh ini belum ada laporan adanya kerusakan atau korban akibat getaran gempa tersebut.

United States Geological Survey (USGS) mencatat, gempa pertama terjadi pada pukul 8.55 PM dengan pusat gempa 772 km utara kota Bangkok. Gempa kedua terjadi beberapa detik kemudian dengan pusat di koordinat yang sama. Pusat gempa pertama di kedalaman 10 km, sedangkan gempa kedua di kedalaman 225 km.

Awalnya USGS, 2 gempa ini dengan magnitud 7,0. Namun, tak lama kemudian, kekuatan gempa dikoreksi menjadi 6,8 dan hanya dicatat satu gempa. Tak lama kemudian terjadi gempa susulan dengan pusat yang sama, dengan magnitud 4,8 pada pukul 8.23 PM.

Gempa Sukabumi, Garut Tasikmalaya dan Cianjur (Minggu, 20 Maret 2011) 5,3 Skala Richter

Minggu pagi, 20 Maret 2011, Gempa bumi berkekuatan 5,3 skala Richter mengguncang sejumlah kawasan di Jawa Barat bagian selatan, diantaranya Sukabumi, Garut, Tasikmalaya dan Cianjur. Gempa bumi yang berpusat di 113 kilometer barat daya Sukabumi dengan kedalaman 10 kilometer itu terjadi sekitar pukul 08.20 WIB. Gempa dirasakan di wilayah Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur.Gempa ini tidak berpotensi Tsunami.

Berdasarkan data dan keterangan, tidak dilaporkan adanya kerusakan dari gempa bumi ini. Meski demikian, goyangannya sempat dirasakan warga di kawasan Jawa Barat bagian selatan. Sumber gempa merupakan lokasi tumbukan lempeng Indoaustronesia dengan lempeng Indoeuronesia yang cukup aktif. Titik tersebut cukup aktif terjadi tumbukan. Namun, lokasinya beda dengan pusat gempa di laut lepas Tasikmalaya.

Wilayah Jawa Barat merupakan jalur rawan bencana alam gempa bumi. Terakhir, gempa bumi berkekuatan tinggi terjadi pada 9 September 2009 dan mengakibatkan kerusakan di sejumlah daerah di Jawa Barat bagian selatan.

Banjir di Kabupaten Subang Januari 2011, Landa 4 Kecamatan (Pamanukan, Legonkulon, Sukasari dan Pusakanegara)

Banjir di Kabupaten Subang Januari 2011 tepatnya pada tanggal 18 Januari kemarin akibat dari meluapnya sungai yang disebabkan tingginya intensitas hujan. Banjir ini melanda 4 Kecamatan di Subang Pantura diantaranya Pamanukan, Legonkulon, Sukasari dan Pusakanegara. 

Dari pantuan wartawan Pikiran Rakyat, tiga sungai yang tidak kuat menampung volume air hujan itu adalah Sungai Cigadung, Sungai Pangaritan, dan Sungai Semak. Karena letak sungai tidak jauh dari pemukiman warga, luapan air langsung menerjang pemukiman penduduk dan areal sawah setinggi 50 hingga 75 Cm. Selain di Subang, banjir juga melanda Indramayu.

Bukan itu saja, sergapan air bah juga nyaris melumpuhkan aktivitas di Kota Pamanukan. Pasalnya, sergapan air banjir menggenangi pula sejumlah ruas jalan yang ada di sekitar pusat kota Pamanukan, sehingga masyarakat yang melintas jalan tersebut harus berjalan ekstra hati-hati.

Demikian pula, sejumlah pedagang yang bisa berjualan di sekitar jalan tersebut terpaksa harus menutup lapaknya kerena teganggu oleh genangan air. “Air mulai menggenagi rumah, sawah dan jalan raya sejak dini hari tadi,” ujar salah seorang warga Pamanukan Suminta (45).

Menurut dia, akibat hal itu, sejumlah warga di tiga desa di Kecamatan Pamanukan terpaksa mengungsi ke tempat yang aman. Namun ada juga yang bertahan di rumahnya masing-masing karena khawatir barang-barangnya malah hilang.

Sementara itu Camat Pamanukan, Rukendi, mengatakan, bencana banjir yang melanda wilayah kerjanya telah merendam sedikitnya 984 rumah di Desa Pamanukan, 466 rumah di Desa Pamanukan Hilir, 574 di Desa Pamanukan Sebrang dan 3.421 di Desa Mulyasari. Sementara jumlah sawah yang diterjang banjir mencapai 609 haktare.

Selain itu, genangan banjir juga telah menutup ruas jalan raya, jalan desa, sekolah dan tempat ibadah setinggi 50 hingga 75 Cm.”Yang kami khawatirkan adalah tanaman padi membusuk akibat bencana ini. Sebab, usia tanam pada areal yang terendam baru dua bulan.

Hal serupa terjadi juga di Kec. Sukasari, Legonkulon dan Pusakanegara. Di tiga kecamatan itu, ribuan rumah warga dilaporkan tertutup genangan air yang bersal dari luapan air sungai.

Menurut Camat Pusakanegara, Ela Nurlaela, rumah yang teredam banjir di wilayah kerjanya mencapai 1.505 unit, sawah 720 hektare, dan tambak 62 hektare.”Mudah-mudahan air cepat surut,” kata Ela.

Sementara Camat Sukasari, Abdul Rohman mengatakan, areal sawah yang tergenang banjir di wilayahnya mencapai 150 hektare dan 100 hektare tambak banding siap panen.. Namun rumah yang diterjang banjir tidak banyak hanya puluhan rumah saja. Di wilayah Kecamatan Legon Kulon, luapan banjir diperparah oleh limpasan air laut pasang atau rob. Akibat hal itu, ratusan rumah di kecamatan itu menjadi langganan banjir.

Menanggapi bencana banjir Pantura Januari 2011 tersebut, Kepala Bagian sosial Setda Subang yang juga Sekretaris PMI setempat, H.E. Kusdinar menyebutkan, pihaknya siap mendr\ikan dapur umum jika gengan banjir terus meluas.”Untuk bantuan sembako sedang kami siapkan,” ujar dia.

Banjir di Indramayu Januari 2011 : Satu Orang (Korban) Hilang di Tengah Banjir

korban banjir kabupaten indramayu
Banjir di Kabupaten Indramayu Januari 2011 ini tepatnya terjadi pada 18 Januari kemarin melanda 7 kecamatan. Menurut laporan, sejauh ini satu orang dinyatakan hilang ditengah banjir. Mujahid, Sekretaris Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Indramayu mengatakan pihaknya menerima laporan adanya korban hilang di tengah banjir yang melanda kawasan Pantai Utara (Pantura).

”Kami menerima laporan orang hilang, Wariyah (50), warga Bugel,” kata Mujahid, Selasa (18/1/2011) kemarin. Belum diperoleh informasi lanjutan terkait kabar hilangnya Wariyah.

Mujahid mengatakan, banjir di Indramayu Januari 2011 itu merupakan yang terparah selama lima tahun terakhir. Banjir disebabkan guyuran hujan dua hari tanpa henti, diperparah oleh rob (air pasang) di pantai utara .

Seperti yang diberitakan sebelumnya, banjir melanda pantai utara Jawa Barat, yakni tujuh kecamatan di Kabupaten Indramayu dan dua kecamatan di Kabupaten Subang, Selasa kemarin. Sekitar 5.000 rumah terendam di Indramayu dan sekitar 1.000 warga diungsikan. Di Subang, banjir merendam 6.665 rumah dan 1.614 hektar sawah.

Tujuh kecamatan yang dilanda banjir adalah Patrol, Sukra, Kandanghaur, Anjatan, Losarang, Gabus Wetan, dan Kroya. Selasa pukul 18.30, tinggi air sepinggang orang dewasa.

Banjir di Subang dan Indramayu (Pantura) Januari 2011, 11600 Rumah Terendam

Banjir di Indramayu Januari 2011
Banjir di Subang dan Indramayu (Pantura) 18 Januari 2011, 11600 rumah pun terendam didua kabupaten yang ada di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat tersebut. Ya, Banjir melanda pantai utara Jawa Barat, yakni tujuh kecamatan di Kabupaten Indramayu dan dua kecamatan di Kabupaten Subang, Selasa 18 Januari 2011 kemarin. Sekitar 5.000 rumah terendam di Indramayu dan sekitar 1.000 warga diungsikan. Di Subang, banjir merendam 6.665 rumah dan 1.614 hektar sawah.

Tujuh kecamatan yang dilanda banjir di Indramayu adalah Patrol, Sukra, Kandanghaur, Anjatan, Losarang, Gabus Wetan, dan Kroya. Selasa pukul 18.30, tinggi air sepinggang orang dewasa.

Di Desa Bugel, Kecamatan Patrol, petugas tanggap bencana (Tagana) dikerahkan untuk mengevakuasi orang lanjut usia dan ibu hamil yang terjebak di rumah. Maria (50), warga Bugel yang mengungsi di Masjid Darussalam, menuturkan, air menggenang sejak Senin malam. Selasa dini hari, ketinggian air meningkat cepat.

Tim Tagana, Palang Merah Indonesia, dan sukarelawan masih berkeliling untuk mengevakuasi warga dan mengirim nasi bungkus ke rumah korban bencana banjir.

Di Subang, banjir merendam 5.445 rumah di empat desa di Kecamatan Pamanukan, yakni Desa Pamanukan (984 rumah), Pamanukan Hilir (466 rumah), Pamanukan Sebrang (574 rumah), dan Mulyasari (3.421 rumah). Air berasal dari luapan tiga sungai, yakni Cigadung, Cipangaritan, dan Kalensema.

Di Kecamatan Pusakanagara, luapan Sungai Sewo merendam 1.220 rumah yang tersebar di sejumlah desa, seperti Patimban, Kebondanas, dan Karanganyar. Genangan terparah terjadi di Desa Mulyasari, setinggi 30-100 sentimeter. Murid di tiga sekolah dasar dan satu sekolah menengah pertama terpaksa diliburkan.

Selasa siang, lebih dari 50 warga tampak mengungsi di kolong jalan layang Pamanukan. Menurut Rase (65), salah satu pengungsi, jika genangan tak kunjung surut, jumlah pengungsi dipastikan bertambah.

Nama-Nama Korban Tabrakan Kereta Api di Stasiun Patarukan Pemalang (33 Tewas/34 Luka-Luka)

Tabrakan antara KA Argo Bromo Jakarta-Surabaya dan KA Senja Utama Jakarta-Semarang di Stasiun Petarukan Sabtu (2/10) sekitar pukul 02.45 menyebabkan banyak korban. Data yang tercantum di Stasiun Petarukan menyebutkan, jumlah korban yang meninggal dunia akibat tabrakan KA Senja Utama dengan KA Argo Bromo Anggrek sebanyak 33 orang dan korban luka 34 orang.

Korban meninggal yang berada di RS Azhari Pemalang tercatat sebanyak 21 orang dan luka-luka sebanyak 15 orang. Sementara yang meninggal dunia di RS Santa Maria Pemalang sebanyak 12 orang dan luka-luka sebanyak 19 orang.

Gempa 7,4 SR di Papua (Kamis 30 September 2010)

Gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang wilayah Papua, Kamis 30 September 2010. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, gempa terjadi pukul 00:10:52.

Sedangkan pusat gempa berada pada 141 Km di tenggara Kaimana, Papua, atau 150 Km di  Timur Laut Tual, Maluku. BMKG juga mengingatkan, gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami dan agar diteruskan kepada masyarakat.