Judi Sabung Ayam Online

Paul Cézanne : Kisah Hidup, Perjalan Seni dan Karyanya

Paul Cézanne pada tahun 1861
Paul Cézanne lahir di Aix-en-Provence, salah satu bagian dari daerah selatan Perancis pada tanggal 19 Januari 1839. Provence adalah wilayah dengan struktur geografis yang kompleks dan beragam, dengan banyak dataran tinggi dan gunung yang membentang hingga bagian timur dari lembah Rhone. Iklimnya panas dan kering saat musim panas, dan dingin saat musim dingin. Ketinggiannya bervariasi dari dataran rendah hingga puncak gunung yang cukup mengesankan, dengan diliputi hutan pinus dan tumbuhan di sekitar batu gunung. Suasana seperti ini sering muncul dalam karya-karya Cézanne.

Sejak kecil hubungan dengan ayahnya yang dikenal kasar tidak begitu baik. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya awal Cézanne yang memperlihatkan ekspresi kemarahan dan frustrasi.

Masa 1859 hingga 1861 dihabiskan Cézanne untuk mendalami bidang hukum di Aix, dan mulai mengembangkan jiwa seninya lewat pelajaran seni. Ia kemudian memutuskan membangkang kepada keinginan ayahnya dengan berkonsentrasi penuh kepada seni dan meninggalkan Aix menuju Paris bersama sahabat karibnya Émile Zola pada tahun 1861. Namun ternyata ayahnya memberikan dukungan penuh, sehingga ia bisa meneruskan hidup dengan nyaman.

Di Paris, Cézanne bertemu Pissarro dan beberapa seniman Impressionists lain. Pengaruh Pissarro cukup besar dalam perkembangan karya Cézanne dan mereka kadang terlihat melukis bersama.

Karya awal Paul Cézanne banyak menampilkan pemandangan, dengan banyak objek besar dan berat yang dilukis secara imajinatif. Kemudian karyanya berkembang menjadi lebih ringan dengan pengamatan langsung sebagai hasil dari pengaruh gaya impresionisme. Gaya Cézanne mirip dengan pendekatan arsitektural dalam rancang bentuk. Bidang pandang dipecah menjadi beberapa bagian kecil menjadi sudut pandang yang datar dengan beberapa sentuhan warna.

Salah satu kata-katanya yang terkenal "Aku ingin mereka ulang sudut pandang impresionisme menjadi lebih solid dan bertahan lama seperti karya-karya seni yang selama ini dipajang di museum". Hal ini seolah menggambarkan keteguhan untuk mengembangkan observasinya sendiri untuk menampilkan objek-objek di alam dengan metoda yang lebih akurat, termasuk dengan cara memecah permukaan objek menjadi goresan repetitif dan kecil. Cézanne memiliki kecenderungan untuk selalu memandang objek dalam bentuk dan sentuhan-sentuhan warna yang lebih sederhana untuk menampilkan informasi sebanyak mungkin.

Pendekatan geometris Cézanne ini memberikan pengaruh besar terhadap gaya kubisme Pablo Picasso, Georges Braque, dan Juan Gris. Jika karya-karya Kubisme disandingkan dengan karya-karya akhir Cézannete, akan terlihat hubungan langsung antara pengamatan Cézanne dengan pencapaian dalam Kubisme. Salah satu bagian penting dari kesamaan ini adalah kedalaman dan konsentrasi yang diterapkan Cézanne untuk memperlihatkan pengamatannya terhadap alam. Masing-masing kita memiliki penglihatan binokular. Sebagai akibatnya setiap individu akan memiliki dua sudut pandang sekaligus yang diolah menjadi konsep kedalaman ruang oleh bagian visual cortex otak. Konsep inilah yang digunakan Cézanne sekaligus menjadi pengaruh bagi gaya kubisme. Hanya saja kubisme mengembangkan konsep ini lebih lanjut dengan tidak hanya berusaha menggunakan dua sudut pandang, tetapi banyak sudut pandang sekaligus dalam satu karya.

Karya-karya Cézanne pertama kali dipamerkan di Salon des Refusés pada tahun 1863, tempat karya-karya yang ditolak oleh kurator Paris Salon. Paris Salon terus menerus menolak karyanya dari periode 1864 hingga 1869.

Cézanne jarang sekali memamerkan karyanya dan terus bekerja dalam keterasingan di Provençe, jauh dari Paris. Ia berkonsentrasi dalam tiga bidang: still life, lukisan pemandian, dan Montagne Sainte-Victoire, yang berulangkali menjadi objek lukisannya.

Meskipun sentuhan religius jarang sekali muncul dalam karyanya, ia tetap penganut Katolik yang taat. Ia berkata “Saat aku memberikan penilaian terhadap seni, Aku akan meletakkan karyaku di samping karya Tuhan seperti pohon atau bunga. Jika bertentangan, itu bukanlah seni.”

Bagi kalangan seni modern di abad 20, Cézanne adalah bapak konsep kesenian modern. Pablo Picasso memanggilnya "Bapak bagi kita semua".

Menjelang akhir hidupnya Cézanne bermusuhan dengan Zola akibat karya Zola yang dianggap melecehkan Cézanne di novel L'Œuvre (The Masterpiece, 1886) dan tidak pernah berbaikan kembali.

Pada 1906, Cézanne jatuh pingsan saat membuat lukisan di luar ruangan dalam keadaan badai. Seminggu kemudian, pada 22 Oktober, ia meninggal akibat pneumonia.

Pada 10 Mei 1999, lukisan Cézanne, Rideau, cruchon et compotier terjual seharga AS$60,5 juta, Lukisan keempat termahal untuk masa itu.
Comments
0 Comments